Antara Mutu dan Harga
Manakah yang perlu didahulukan?
Andi Ferdinand, Engineer (QA department),
Thomson - Batam
Menuju Pasar Cina
Fenomena lain yang dapat kita lihat diberbagai media
dimana telah banyak perusahaan perusahaan besar dari
Eropa telah melirik China sebagai tujuan investasinya. Hal ini
tidak bisa kita pungkiri dan dari berbagai informasi yang
Penulis dapatkan serta pendapat para milis IPOMS yang
sudah pernah survei ke sana, selain dari harga material yang
cukup murah, juga diperoleh disana kemudahan dalam
birokrasi (regulasi), ketersediaan sumber daya yang banyak
sehingga berdampak pada direct cost-nya, insentif kepada
para investor dan masih banyak lagi penyebab yang mungkin
baik langsung maupun secara tidak langsung mempengaruhi
hal ini. Dari penomena inilah Penulis ingin sedikit membuka
wacana dan pendapat kita ataupun sedikitnya mengingat
kembali akan teori teori manajemen operasional yang kita
dapatkan. Melangkah dan melihat apakah trend ini telah
membawa suatu perubahan dalam filosofi menejemen?
Dimana tujuan organisasi bukan lagi hanya mencapai profit
tetapi telah beralih dari profit goal menjadi satisfaction
achievement of customer.
Saya kira kita semua setuju dengan filosofi diatas,
tapi masalahnya apakah dengan harga yang murah kita telah
puas dengan harapan kita atas produk yang kita beli. “lima
bulan yang lalu teman saya baru beli radio tape buatan
China (merek saya rahasiakan), memang harganya hanya
Rp.500.000 tapi sialnya baru 2 bulan dipakainya headnya
sudah rusak tidak ada garansi lagi”. Terlepas dari cara
pakainya tentu saja kita merasa tertipu (complain) tapi
komplain sama siapa soalnya tidak ada jaminan.”
Harga (cost of good sold)
Ada beberapa factor yang sangat berpengaruh besar
dalam penentuan harga ini yang antara lain biaya
direct labor, raw material, overhead, inventory
depreciation, production variance dan sebagainya.
Memang dalam pasar terbuka (open market) harga
salah satu faktor utama untuk tetap kuat dalam
persaingan apalagi sudah banyak pesaing kita yang
memproduksi barang sejenis. Kalau tidak bisa -bisa
tahun depan atau lima tahun ke depan akan gulung
tikar.
Saat ini China telah banyak memproduksi model
model ” city car” seperti perusahaan General Motor
sama VW mereka sudah lama membuka cabangnya
di China, tetapi dua tahun belakangan ini China telah
menjiplak model-model tersebut yang tentu saja
dengan merek yang berbeda namun masih dalam
model “city car”. Saya kira hal ini sah-sah saja
dalam pesaingan bisnis global dan terbukti hal ini
telah membuat pangsa pasar GE dan VW semakin
menurun, dan yang paling trend sekarang disana
rata-rata remaja memiliki gaya hidup mewah dengan
memilki mobil sendiri dan dengan harga yang tentu
saja murah tadi mereka lebih memilih buatan China
tersebut daripada GE dan VW yang lumayan mahal.
Mutu (quality) Definisi
Totalitas dari semua karakteristik yang terdapat dalam barang/jasa yang dapat memenuhi keinginan kita.” Ini adalah
definisi mutu secara sederhana. Saya kutip lagi pernyataan umum yang sering kita dengar “ untuk mendapatkan barang
yang bermutu maka harus dengan pengorbanan yang besar pula alias (keluar gocek yang lebih besar). Tapi hal ini
akan bertentangan dengan pemahaman dalam kerangka “business thinking” dimana poor quality is more expensive
than good quality.Memang ada benarnya juga tetapi, kalau kita lihat dari prilaku konsumen (sudut pandang konsumen)
dimana ada sebagian konsumen tidak peduli berapa harganya yang penting ada atribut dari barang itu yang dia sukai
maka jadilah dibelinya.
Penutup
Dalam bagian ini Penulis ingin mengakhiri dengan mengajukan pertanyaan “apakah yang sebenarnya organisasi kejar
(goal)”. Kalau saya melihat tujuan yang utama adalah jangka panjang yaitu kepuasan konsumen, bagaimana kita
memberikan value itu, dan belum tentu dengan modal yang besar, misalnya untuk cost reduction hendaknya jangan
sampai mengorbankan konsumen itu sendiri. Kalaulah harus ada cost reduction diupayakan nilai-nilai (characteristic
quality in an individual product) jangan sampai hilang. Penulis menyadari, tulisan ini kurang cukup untuk mendukung
argument-argument dari isu di atas dan dengan ini diharapkan wacana ini semakin luas. Cukup sekian Penulis ucapkan
terima kasih kepada semua pihak antara lain anggota milis IPOMS dan editor buletin ini.
Globalisasi memang membuat para perusahaan/investor di beberapa negara harus berfikir ulang
(reengineering business-nya) untuk tetap kuat dalam kompetisi di pasar internasional. Hal ini tidak
bisa dielakkan dengan munculnya pesaing yang memproduksi barang/jasa yang sama.
Penulis mengambil contoh misalnya Sony dan belakangan Mitsubishi Motor, yang rencananya akan
menghentikan salah satu “assembly plant-nya. Menurut Petinggi Mitsubishi sendiri (Richwan Alamjah;
Majalah Autobid edisi 55 Juni 2005) “bahwa ini semata mata disebabkan beberapa faktor antara lain
yaitu skala ekonomi di tanah air dan AFTA sehingga harus memaksa kami untuk mengubah strategi
penjualan”. Mitsubishi Indonesia membantah bahwa ini bukan disebabkan kalah bersaing dengan
produk pesaing lain sejenis tetapi dengan alasan strategi bisnis.
No comments:
Post a Comment