Translate

Friday, July 29, 2016

Antara Mutu dan Harga Manakah yang perlu didahulukan?

Antara Mutu dan Harga Manakah yang perlu didahulukan?
Andi Ferdinand, Engineer (QA department), Thomson - Batam 

Menuju Pasar Cina Fenomena lain yang dapat kita lihat diberbagai media dimana telah banyak perusahaan perusahaan besar dari Eropa telah melirik China sebagai tujuan investasinya. Hal ini tidak bisa kita pungkiri dan dari berbagai informasi yang Penulis dapatkan serta pendapat para milis IPOMS yang sudah pernah survei ke sana, selain dari harga material yang cukup murah, juga diperoleh disana kemudahan dalam birokrasi (regulasi), ketersediaan sumber daya yang banyak sehingga berdampak pada direct cost-nya, insentif kepada para investor dan masih banyak lagi penyebab yang mungkin baik langsung maupun secara tidak langsung mempengaruhi hal ini. Dari penomena inilah Penulis ingin sedikit membuka wacana dan pendapat kita ataupun sedikitnya mengingat kembali akan teori teori manajemen operasional yang kita dapatkan. Melangkah dan melihat apakah trend ini telah membawa suatu perubahan dalam filosofi menejemen? Dimana tujuan organisasi bukan lagi hanya mencapai profit tetapi telah beralih dari profit goal menjadi satisfaction achievement of customer. Saya kira kita semua setuju dengan filosofi diatas, tapi masalahnya apakah dengan harga yang murah kita telah puas dengan harapan kita atas produk yang kita beli. “lima bulan yang lalu teman saya baru beli radio tape buatan China (merek saya rahasiakan), memang harganya hanya Rp.500.000 tapi sialnya baru 2 bulan dipakainya headnya sudah rusak tidak ada garansi lagi”. Terlepas dari cara pakainya tentu saja kita merasa tertipu (complain) tapi komplain sama siapa soalnya tidak ada jaminan.”
Harga (cost of good sold) Ada beberapa factor yang sangat berpengaruh besar dalam penentuan harga ini yang antara lain biaya direct labor, raw material, overhead, inventory depreciation, production variance dan sebagainya. Memang dalam pasar terbuka (open market) harga salah satu faktor utama untuk tetap kuat dalam persaingan apalagi sudah banyak pesaing kita yang memproduksi barang sejenis. Kalau tidak bisa -bisa tahun depan atau lima tahun ke depan akan gulung tikar. Saat ini China telah banyak memproduksi model model ” city car” seperti perusahaan General Motor sama VW mereka sudah lama membuka cabangnya di China, tetapi dua tahun belakangan ini China telah menjiplak model-model tersebut yang tentu saja dengan merek yang berbeda namun masih dalam model “city car”. Saya kira hal ini sah-sah saja dalam pesaingan bisnis global dan terbukti hal ini telah membuat pangsa pasar GE dan VW semakin menurun, dan yang paling trend sekarang disana rata-rata remaja memiliki gaya hidup mewah dengan memilki mobil sendiri dan dengan harga yang tentu saja murah tadi mereka lebih memilih buatan China tersebut daripada GE dan VW yang lumayan mahal. 
Mutu (quality) Definisi Totalitas dari semua karakteristik yang terdapat dalam barang/jasa yang dapat memenuhi keinginan kita.” Ini adalah definisi mutu secara sederhana. Saya kutip lagi pernyataan umum yang sering kita dengar “ untuk mendapatkan barang yang bermutu maka harus dengan pengorbanan yang besar pula alias (keluar gocek yang lebih besar). Tapi hal ini akan bertentangan dengan pemahaman dalam kerangka “business thinking” dimana poor quality is more expensive than good quality.Memang ada benarnya juga tetapi, kalau kita lihat dari prilaku konsumen (sudut pandang konsumen) dimana ada sebagian konsumen tidak peduli berapa harganya yang penting ada atribut dari barang itu yang dia sukai maka jadilah dibelinya.
 Penutup 
Dalam bagian ini Penulis ingin mengakhiri dengan mengajukan pertanyaan “apakah yang sebenarnya organisasi kejar (goal)”. Kalau saya melihat tujuan yang utama adalah jangka panjang yaitu kepuasan konsumen, bagaimana kita memberikan value itu, dan belum tentu dengan modal yang besar, misalnya untuk cost reduction hendaknya jangan sampai mengorbankan konsumen itu sendiri. Kalaulah harus ada cost reduction diupayakan nilai-nilai (characteristic quality in an individual product) jangan sampai hilang. Penulis menyadari, tulisan ini kurang cukup untuk mendukung argument-argument dari isu di atas dan dengan ini diharapkan wacana ini semakin luas. Cukup sekian Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak antara lain anggota milis IPOMS dan editor buletin ini. 

Globalisasi memang membuat para perusahaan/investor di beberapa negara harus berfikir ulang (reengineering business-nya) untuk tetap kuat dalam kompetisi di pasar internasional. Hal ini tidak bisa dielakkan dengan munculnya pesaing yang memproduksi barang/jasa yang sama. Penulis mengambil contoh misalnya Sony dan belakangan Mitsubishi Motor, yang rencananya akan menghentikan salah satu “assembly plant-nya. Menurut Petinggi Mitsubishi sendiri (Richwan Alamjah; Majalah Autobid edisi 55 Juni 2005) “bahwa ini semata mata disebabkan beberapa faktor antara lain yaitu skala ekonomi di tanah air dan AFTA sehingga harus memaksa kami untuk mengubah strategi penjualan”. Mitsubishi Indonesia membantah bahwa ini bukan disebabkan kalah bersaing dengan produk pesaing lain sejenis tetapi dengan alasan strategi bisnis. 

No comments:

Post a Comment