REKAYASA KEANDALAN PRODUK
Sachbudi Abbas Ras, ST, MT Staf pengajar jurusan Teknik Industri dan Kepala INDONUSA Quality Center; Universitas INDONUSA Esa Unggul; Jakarta Barat - DKI Jakarta. Email : Sachbudi.abbas.ras@indonusa.ac.id
INDONUSA Quality Center adalah Center of Excellence yang dibentuk salah satunya adalah untuk diseminasi dari keilmuan reliability engineering dan untuk terlibat secara aktif dalam upaya peningkatan keandalan dari berbagai produk industri. Upaya diseminasi dan komunikasi yang diharapkan terwujud diwadahi melalui mailing list reliability-id@yahoogroups.com
Sachbudi Abbas Ras, ST, MT Staf pengajar jurusan Teknik Industri dan Kepala INDONUSA Quality Center; Universitas INDONUSA Esa Unggul; Jakarta Barat - DKI Jakarta. Email : Sachbudi.abbas.ras@indonusa.ac.id
1.Pendahuluan
Tiap produk, apapun jenisnya, pasti akan
mengalami kegagalan. Banyak hal yang mempengaruhi
dan beragam pula mekanisme yang menyebabkan
terjadinya kegagalan tersebut. Umumnya, kegagalan ini
akan menyebabkan banyak sekali ketidak-nyamanan
sebagai tambahan terhadap dampak ekonomisnya. Tak
sedikit pula, beberapa dari kegagalan ini meningkatkan
perhatian terhadap keselamatan manusia, terlepas dari
ada atau tidaknya kecelakaan fatal yang
diakibatkannya.
Namun, banyak pula kegagalan yang akibatnya
lebih signifikan dari sekedar dampak ekonomis dan
keselamatannya. Contoh terakhir yang cukup baik
adalah meledaknya pesawat ruang angkasa Challenger
beberapa tahun yang lalu. Meledaknya Challenger ini
diakibatkan oleh kegagalan dari komponen rubber Orings
yang digunakan untuk melapisi keempat bagian
dari booster rockets. Kegagalan komponen ini berawal
dari temperatur dibawah titik beku sebelum peluncuran
yang berkontribusi terhadap kegagalan dimaksud
dengan membuat rubber menjadi mengkerut.
Dari ilustrasi dan contoh diatas, kita bisa
menyimpulkan bahwa dampak dari kegagalan produk
dan sistem bervariasi dari ketidak-nyamanan dan biaya
yang kecil terhadap kecelakaan manusia, kerugian
ekonomis yang signifikan, sampai pada kematian.
Berbagai penyebab dari kegagalan ini mencakup
engineering design yang buruk, konstruksi atau proses
manufaktur yang salah, human error, perawatan yang
jelek, pengujian dan inspeksi yang tidak mencukupi,
penggunaan yang tidak tepat, dan kurangnya proteksi
terhadap tekanan lingkungan yang berlebihan. Dengan
hukum yang telah ada dan berbagai keputusan
pengadilan terbaru, maka pihak manufaktur dianggap
paling bertanggung jawab karena telah gagal
mempertimbangkan dengan tepat keamanan (safety)
dan keandalan (reliability) dari produk yang dihasilkan.
Hal ini yang akhirnya mengarah pada kondisi
bahwa engineer yang berwenang terhadap desain
produk harus memasukkan faktor keandalan sebagai
salah satu kriteria desainnya.
2. Konsep Dasar Keandalan
Suatu produk dikatakan memiliki nilai sebagai
akibat dari utilitas atau performansinya dalam
memenuhi suatu kebutuhan atau permintaan dari
konsumen. Beberapa faktor yang berkontribusi
terhadap nilai yang tinggi bagi suatu produk adalah
versatilitas, kemudahan penggunaan, keamanan,
estetika, dan keandalannya.
Keandalan (reliability) didefinisikan sebagai
probabilitas bahwa suatu komponen atau sistem akan
melakukan fungsi yang diinginkan sepanjang suatu
periode waktu tertentu bilamana digunakan pada
kondisi-kondisi pengoperasian yang telah ditentukan.
Atau dalam perkataan yang lebih singkat, keandalan
merupakan probabilitas dari ketidak-gagalan terhadap
waktu.
Menentukan keandalan dalam pengertian
operasional mengharuskan definisi diatas dibuat lebih
spesifik. Pertama, harus ditetapkan definisi yang jelas
dan dapat diobservasi dari suatu kegagalan. Berbagai
kegagalan ini harus didefinisikan relatif terhadap fungsi
yang dilakukan oleh komponen atau sistem.
Kedua, unit waktu yang menjadi referensi dalam
penentuan keandalan harus diidentifikasikan dengan
tegas. Sebagai contoh, interval waktu yang ditentukan
mungkin didasarkan pada waktu kalender atau jam, jam
pengoperasian, atau dalam siklus operasional. Dalam
beberapa kasus, keandalan tidak didefinisikan terhadap
waktu namun terhadap ukuran lainnya, misalnya
kilometer yang telah ditempuh. Untuk sistem produksi,
kegagalan bisa didefinisikan dalam terminologi unit atau
batch yang diproduksi.
Ketiga, komponen atau sistem yang diteliti harus
diobservasikan pada performansi normal. Ini mencakup
beberapa faktor seperti beban yang didesain,
lingkungan, dan berbagai kondisi pengoperasian.
3.Rekayasa Keandalan
dari Produk
Rekayasa keandalan (reliability engineering)
berupaya untuk melakukan studi, karakterisasi,
pengukuran, dan analisis terhadap berbagai
kegagalan dan aktivitas perbaikan-kembali dari
komponen atau sistem dalam rangka meningkatkan
penggunaan operasionalnya. Peningkatan ini
dilakukan melalui design life, eliminasi atau reduksi
kemungkinan munculnya berbagai kegagalan dan
resiko keselamatan, yang karenanya akan
meningkatkan waktu pengoperasian yang tersedia.
Bilamana diaplikasikan terhadap produk,
beberapa tahapan yang perlu dilakukan adalah
sebagai berikut:
• Penguraian dari struktur produk berdasarkan
pendekatan terhadap berbagai fungsi yang
harus dilakukan oleh produk, subsistem, dan
tiap komponennya. Ini diilutrasikan melalui
konstruksi dari Function Block Diagram (FBD).
Tahapan ini akan secara definitif menjelaskan
pengertian operasional dari kegagalan.
• Penguraian dari arsitektur produk dalam bentuk
komposisional dari konfigurasi berbagai
komponen, secara serial atau paralel, yang
membentuk produk bersangkutan. Ini
selanjutnya akan dituangkan secara
diagramatis dalam Reliability Block Diagram
(RBD).
• Asesmen terhadap tingkat keandalan dari tiap
komponen (reliability estimation) yang
berdasarkan RBD pada tahapan sebelumnya
akan menghasilkan estimasi dari tingkat
keandalan produk (reliability prediction).
• Upaya peningkatan keandalan dari produk akan
dilakukan dengan analisis statistikal terhadap
karakteristik kegagalan pada tiap tahapan
bathtub curve-nya, yang kemudian bisa
dioptimasi secara stokastik atau dengan
simulasi montecarlo.
• Perwujudan peningkatan ini bisa saja mengarah
pada perlu diubahnya engineering design dari
produk bersangkutan atau bahkan pada
arsitektur produk tersebut. Ini tentu saja perlu
dikaji kembali berdasarkan kelayakan secara
teknis dan ekonomisnya.
4. Penutup
Dengan semakin meningkatnya kesadaran
akan keselamatan dan pengetahuan yang dimiliki
oleh konsumen, maka mau tidak mau pihak
manufaktur harus memperhatikan dan
mempertimbangkan dengan sangat mendalam
aspek keandalan dari produk yang dihasilkannya. Ini
menjadi penting untuk bisa mewujudkan kepuasan
konsumen (customer satisfaction).
INDONUSA Quality Center adalah Center of Excellence yang dibentuk salah satunya adalah untuk diseminasi dari keilmuan reliability engineering dan untuk terlibat secara aktif dalam upaya peningkatan keandalan dari berbagai produk industri. Upaya diseminasi dan komunikasi yang diharapkan terwujud diwadahi melalui mailing list reliability-id@yahoogroups.com
No comments:
Post a Comment