Pengurangan Cycle Time dan Inventory Cost
untuk Mencapai Competitive Advantage
Holy Icun Yunarto, ST, MM
Supply Chain Management Consultant
Email : Holy_icun@yahoo.com
Holy Icun Yunarto, ST, MM
Supply Chain Management Consultant
Email : Holy_icun@yahoo.com
Pepatah lama mengatakan bahwa “waktu adalah
uang”. Dalam iklim bisnis sekarang ini, waktu bukan
hanya sekedar “uang” tetapi berkembang menjadi
suatu “senjata” yang kompetitif untuk memenangkan
persaingan. Dapat kita lihat bahwa banyak
perusahaan memenangkan persaingan karena dia
unggul dalam waktu. Dengan mengurangi cycle time
dalam produksi dan dalam proses administrasi,
perusahaan dapat merespon kebutuhan customer
dengan lebih cepat dan dapat lebih fleksibel
mengatasi perubahan pasar. Keuggulan yang lain
adalah jika suatu perusahaan unggul dalam hal
biaya.
Sebuah perusahaan akan mencapai
competitive advantage (keunggulan bersaing) jika
perusahaan tersebut lebih produktif, lebih efisien,
dan dapat lebih memuaskan pelanggannya
dibandingkan pesaingnya. Salah satu alasan
pengurangan cycle time adalah agar produksi dapat
berubah dari make-to-forecast menjadi make-toorder,
namun syaratnya customer tidak boleh
menunggu terlalu lama antara waktu pemesanan
dan waktu penerimaan barang. Ditinjau dari sisi
inventory cost, pengurangan inventory cost akan
berpengaruh terhadap peningkatan kinerja
keuangan dan operasional perusahaan, namun hal
ini dapat dilakukan selama tidak terjadi kondisi
stock-out. Kesimpulannya pengurangan cycle time
dan inventory cost hanya dapat dilakukan jika tidak
terjadi pengurangan kepuasan pelanggan.
Salah satu konsep manajemen yang
ampuh untuk mengurangi cycle time dan inventory
cost adalah Just In Time (JIT). Filosofi JIT adalah
hanya memproduksi apa yang dibutuhkan, dengan
jumlah yang dibutuhkan, dan tepat pada waktu
dibutuhkan. Oleh karena itu dalam JIT terdapat
konsep pengurangan inventory, baik inventory di
dalam proses produksi (dengan produksi lot kecil),
inventory safety stock, inventory material dan
finished goods, ataupun inventory di antara proses
produksi satu dengan yang lainnya. Hal ini akan
berakibat pada pengurangan inventory cost yang
muncul di balance sheet (di bagian current asset)
berefek pada peningkatan kinerja keuangan.
Keberhasilan implementasi JIT akan mengakibatkan
biaya produksi yang lebih efisien sehingga berakibat
langsung pada penurunan nilai COGS (cost of
goods sold) yang ada di income statement sehingga
penciptaan margin akan semakin besar.
Dengan JIT diharapkan dapat dicapai
volume produksi yang tinggi dan berkualitas dengan
menggunakan inventory (bahan mentah, barang
setengah jadi, ataupun produk jadi) yang
seminimum mungkin. Keberhasilan JIT harus
didukung dengan implementasi konsep manajemen
yang lain, seperti manajemen kualitas, total
productive maintenance, pengurangan waste
(segala sesuatu yang tidak menambah nilai pada
produk), integrasi dan partnership di sepanjang
rantai persediaan (dengan bantuan teknologi
informasi), continuous improvement, employee
involvement, dll.
JIT hanya memproduksi barang pada
waktu dibutuhkan saja mengikuti permintaan (sistem
tarik). Permintaan dapat berarti permintaan
customer akhir atau proses produksi berikutnya. Hal
ini menuntut cycle time produksi haruslah kecil. Oleh
karena itu agar lebih fleksibel dalam mengikuti pola
permintaan, maka produksi dilakukan dengan lot
kecil. Hal ini bertentangan dengan dengan
pendekatan tradisional dimana setiap operasi
diharapkan berjalan secepat mungkin (efisiensi
maksimum) tanpa mempertimbangkan seberapa
cepat barang tersebut diperlukan. Dengan mengikuti
pola permintaan dan produksi lot kecil, maka akan
sering terjadi penggantian jenis barang yang
diproduksi, oleh karena itu setup time mesin
haruslah kecil. Namun dalam prakteknya, pada proses produksi bottleneck (misal karena mesin
butuh pemanasan, butuh dibersihkan, batasan
jumlah produksi minimum, dsb) perlu dianalisa lebih
lanjut dalam hal jumlah lot produksinya dan
kemungkinan dapat dilakukan penghalusan pola
permintaan.
Agar produksi dengan lot kecil dapat
dilakukan maka setup time mesin harus diminimisasi
agar perubah barang yang diproduksi dapat
dieksekusi secepatnya sehingga efisiensi mesin
dapat dipertahankan. Penggunaan lot kecil berefek
pada berkurangnya inventory holding cost (karena
average inventory = jumlah lot / 2), lebih fleksibel
mengikuti perubahan permintaan, waktu tunggu
yang lebih kecil karena barang cepat selesai, dan
kontrol kualitas yang lebih baik. Pengurangan setup
time dapat dikurangi dengan memisahkan setup
internal (ketika mesin berhenti) dari setup
Pengurangan setup time dapat dikurangi dengan
memisahkan setup internal (ketika mesin berhenti)
dari setup eksternal (ketika mesin masih
beroperasi), mengubah setup internal menjadi setup
eksternal, mempersingkat waktu setup (misalnya
dengan mengganti semua mur dan baut dengan
pengikat yang gampang dipasang dan dilepas), dan
dengan melakukan setup secara pararel.
Cycle time dapat dikurangi dengan operasi
yang overlap dan mengatur kembali letak mesin.
Cara layout tradisional biasanya mengelompokkan
mesin yang sejenis dalam satu kelompok, misalnya
screw machines pada satu area dan grinders pada
area yang lain. Tata letak dapat diubah dengan
mengelompokkan secara overlap atas dasar
produksi per product family (jenis barang yang
memiliki kemiripan). Hal ini akan berakibat pada
berkurangnya waktu tunggu dan waktu perpindahan,
sehingga yang dulunya barang diproduksi dalam
hitungan hari sekarang dapat diproduksi dalam
hitungan jam.
Faktor yang penting untuk mengurangi
cycle time adalah dengan meningkatkan
partnership, partnership dengan supplier, customer
utama, dan juga tak lupa partnership dengan area
administrasi. Proses adiministrasi sering dilupakan
untuk dimonitor, padahal proses administrasi
memiliki bagian yang penting dalam cycle time.
Contoh proses administrasi adalah proses mulai dari
sales order sampai turun ke shop floor, proses
pembuatan invoice, proses pembuatan surat jalan,
dll.
Dalam beberapa kasus, cycle time supplier jauh
lebih besar dari cycle time internal (produksi). Hal ini
yang sering menjadi masalah pada sebagian
perusahaan di Indonesia karena banyaknya raw
material impor dengan lead time pembelian yang
besar (2-4 bulan). Hal ini berefek pada penumpukan
material sebagai safety stock.
Padahal beberapa material memiliki tanggal
kedaluarsa dan jika prediksi forecast salah, akan
berakibat pada banyaknya material yang kedaluarsa
dan akhirnya material tersebut hanya bisa dibuang.
Menanggapi hal ini seharusnya kedepannya
Indonesia jangan hanya fokus kepada produksi
finished goods saja, tetapi bagaimana caranya
untuk memproduksi raw material sehingga lead time
pembelian kecil dan berakibat pada safety stock
yang besar tidak dibutuhkan lagi.
Konsep JIT banyak sekali dipakai di
industri dengan karakteristik repetitive
manufacturing. Tetapi bagaimana dengan
karakteristik process manufacturing? Sebenarnya
konsep JIT sangatlah luas, sehingga sebagian
konsep JIT juga dapat diterapkan pada process
manufacturing. Bagaimana dengan perusahaan
dengan karakteristik job order? Yang biasanya
permintaan customer sulit untuk diprediksi.
Haruskah hal ini dilawan dengan penumpukan stock
raw material di gudang untuk mengatasi permintaan
customer yang tidak bisa diprediksi. Jawabanya
adalah dengan pengurangan cycle time yang
muncul pada setiap proses sehingga penumpukan
raw material dapat dikurangi.
Untuk pembahasan lebih detil dapat dilihat di Buku
“Business Concepts Implementation Series in
Inventory Mangement”, Publisehed by Elex Media
Komputindo
No comments:
Post a Comment